Sunday, April 5, 2009
Rasakan Dengan Tanganmu
Jadi begini ceritanya. Gw bangun di minggu siang yang cerah dan indah. Tapi keindahan itu rusak ketika gw menyadari dompet gw tidak dalam jangkauan mata gw. OMG! Panik, bingung, dan marah langsung campur aduk dalam perasaan gw. Panik karena semua duit gw, kartu atm, KTP, KTM, dan ketebelece lainnya ada di dalam dompet gw. Bingung karena gw ga mau terima kalau gw harus mengulangi prosedur pembuatan segala tetek bengek yang terdapat dalam dompet gw. Marah karena dompet yang tidak dalam penglihatan ini merupakan dompet kesayangan gw dan karena ada foto Dewi Persik lagi pegang dada gw dalam dompet itu.
Perasaan campur aduk ini pun mengakibatkan pada pencarian yang membabi buta. Kasur di kamar menjadi korban kemarahan. Kasur di kamar gw kudeta, gw gulingkan dari singgasananya. Dompet tetep tidak ada. Isi rumah gw acak-acak tapi langsung gw beresin lagi, takut diomelin nyokap. Hehehe. Dompet tetek tidak ada. Eh, tetep tidak ada. Akhirnya gw memutuskan untuk menenangkan diri dengan mengurus pekerjaan yang harus gw lakukan dulu dan berharap kepala menjadi dingin dan lebih mudah mencari dompet kesayangan gw.
Gw udah ngalor ngidul kesana kemari ke utara barat timur selatan buat ngurus pekerjaan gw dan mendinginkan kepala. Lalu kembalilah gw di rumah, lokasi dimana gw yakin dengan amat sangat menjadi tersangka dalam penyembunyian dompet gw. Rasa campur aduk itu kembali menyerang. OMG!
Gw pun mewawancara seluruh anggota keluarga gw dan semua orang yang saya temui di hari itu. Bahkan nenek lagi ngemis gw tanyain dompet gw. Bagai detektif dan anjing pelacak yang mengendus-ngendus keberadaan dompet atau kemungkinan adanya terjadi tindak kejahilan di dalam rumah dan sekitarnya, gw terus mencari tanpa lelah dan penuh amarah. Tapi sampai matahari terbenam dan langit mulai gelap, keberadaan dompet gw masih dipertanyakan. Akhirnya, seperti layaknya bayi yang kehilangan kenyotannnya, gw menangis, meraung, memaki, dan mencaci. Saking keselnya ampe Tuhana aja gw maki-maki. *Siapa tuh Tuhana?* Oh iye, Tuhan maksud gw. Hehehe. Gw pun datang berkunjung ke psikolog terbaik di dunia, emak gw. Gw curhat mengenai ketakutan gw dalam mendatangi kantor polisi untuk bikin surat kehilangan, kerepotan dalam ngurus atm di bank yang prosedurnya jelimet. Psikolog gw bilang, "Hmmm, tampaknya kamu terlalu banyak hal yang dipikirkan sampai akhirnya tidak bisa berpikir." Sebuah ungkapan halus untuk menyatakan BEGO LO! Ya, saya memang bodoh. Akhirnya saya menyerahkan diri kepada keadaan yang memaksa saya untuk berkunjung untuk ketiga kalinya ke kantor Sersan Joko dan memohon padanya memberikan ampun pada saya atas kebodohan saya dan memberikan saya surat keterangan hilang. Saya pun dengan langkah layu dan tertatih berjalan ke kamar saya dan dengan penuh harapan meraba-raba celana saya yang digantung di belakang pintu agar dia terangsang dan mengaku bahwa dia menyembunyikan dompet saya. Ketika dalam proses perabaan itu, saya pun merasakan ada bagian dari celana yang memiliki tekstur berbeda dari celana-celana lainnya di dunia. Celana gw ini memiliki bagian yang keras. Gw langsung berpikir, "Jangan-jangan celana gw beneran terangsang nih, dasar murahan." Tapi ketika insting detektif gw keluar lagi dan berusaha meraba lebih kencang dengan harapan celana gw berbicara, sebuah hipotesa jenius yang belum tentu terpikirkan oleh semua orang muncul di kepala gw. Jangan-jangan dompet gw ada di celana gw yang semalem gw pake pergi semalem sama temen gw, yang juga telah diinterogasi berikut mobilnya. Lima menit kemudian setelah saya berpikir keras dan tangan saya masih merogoh celana, saya merasakan ada kulit yang saya sentuh. Kemudian kulit itu saya raba-raba lagi untuk memastikan bentuk dan bahannya. Tapi sayang sekali dalam kepala saya tidak muncul sebuah imej yang sesuai dengan dompet saya, yang terbayang kulit-kulit lainnya. hehehe. Akhirnya, gw nyerah sama logika gw dan melakukan tindak kekerasan. Gw tarik paksa benda kulit itu dari celana gw. DOMPET GW! HALLELUYAH! HALLELUYAH!
Jadi, my lesson of the day is cari yang bener, jangan pake ngomel, sabar, dan jangan nyalahin Tuhan. Toh yang salah juga gw yang terlalu bego untuk inget tempat terakhir gw naro dompet gw. So, friends, love your wallet like you love yourself like you love GOD. Peace out!
Saturday, March 21, 2009
Ketidakmustahilan Perdamaian Dunia
Bila kalian adalah pencari jawaban dan selalu bertanya ‘kenapa?’ atas segala hal yang terjadi di dunia ini, kalian mungkin ingin membaca tulisan ini. Pada tulisan ini saya akan berusaha menjabarkan sedikit tentang bagaimana mewujudkan perdamaian dunia berdasarkan pengetahuan saya yang terbatas. Tulisan ini akan memakan waktu beberapa lama untuk membacanya, jadi posisikan diri kalian senyaman mungkin untuk membaca tulisan ini. Here we go.
Seberapa sering kalian mendengar teori konspirasi dan bagaimana konspirasi itu mewakili pihak-pihak tertentu demi keuntungan mereka dengan mengatur dunia dan membuat banyak orang menderita? Saya berani menyatakan bahwa konspirasi dunia itu memang ada, namun tak ada pihak-pihak tertentu yang sewajarnya disalahkan. Bentuk konspirasi dunia yang ada itu semata-mata merupakan sebuah siklus semesta yang merupakan bagian sub-atom dari ‘higher being’.
Banyak dari kalian telah mendengar teori atom, struktur DNA, dan gen yang dimiliki oleh setiap makhluk kasat mata di dunia ini. Tapi mungkin tidak semua dari kalian menyadari bahwa hal-hal tersebut merupakan faktor utama mengapa kita menangkap dunia yang kita lihat, dengar, cium, dan rasakan sebagai kenyataan. Berdasarkan informasi dari narasumber yang tidak bersedia untuk diungkap identitasnya, bila partikel-partikel atom yang membentuk wujud kasat indera ditelaah hingga ke bagian terkecilnya maka akan terungkap bahwa dalam atom itu tidak terdapat zat apapun atau hampa.
Dengan demikian, saya berani menyatakan bahwa kesadaran kitalah yang membentuk kenyataan. Kita sendiri yang membentuk dunia ini. Kita sendiri yang menentukan arah langkah kaki kita, lain tidak. Kesadaran itulah yang menyatukan kita, sehingga kita berinteraksi dengan alam sekitar kita. Kesadaran itulah yang membuat kita dan segala isi dunia memiliki suatu hubungan. Kesadaran sejati itulah yang berusaha diungkapkan dalam kitab-kitab agama-agama kuno dan kemudian diberikan label ‘Tuhan’ oleh agama-agama monoteistik.
Namun, lambat laun, kesejatian dari pesan-pesan spiritual itu terdistorsi oleh tembok-tembok ilusi yang diciptakan manusia dan diteruskan turun temurun hingga akhirnya manusia melupakan bentuk sejatinya. Bentuk kealpaan itu bisa kita lihat dari pengabaian kita akan kemampuan sejati manusia bergantung pada benda-benda non-alami. Sejatinya manusia tidak memerlukan perantara apapun untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya, bahkan tidak dengan menggunakan bahasa. Namun, pada saat ini manusia seolah-seolah kehilangan anggota tubuhnya ketika telepon seluler mereka rusak, hilang, tertinggal, atau terlupakan. Manusia seolah-olah lumpuh sendi-sendinya jika tak dapat menemukan angkutan umum, kendaraan pribadi, atau bentuk fasilitas transportasi lainnya. Bentuk kemanjaan ini yang akhirnya menjauhkan manusia dari bentuk manusia sejati lainnya.
Dalam kitab suci agama monoteistik, yang saya anggap sebagai buku sejarah tertua manusia, terdapat kisah mengenai menara Babel. Kisah tersebut bercerita tentang pada dasarnya manusia tidak memerlukan bahasa untuk berkomunikasi. Faktor tersebut membuat manusia sombong. Kesombongan manusia dapat terlihat dan dalam usaha mereka mendirikan menara tinggi untuk mengungguli langit. Karena kesombongan ini merupakan hal yang tidak sewajarnya dimiliki manusia, kesadaran tertinggi kemudian menyadari hal ini. Sebagai bentuk introspeksi kesadaran, bahasa menjadi dibutuhkan untuk membatasi manusia dalam berkomunikasi agar tidak menyamakan persepsi dan kemudian menjadi sombong. Penyadaran bahwa kesombongan sebagai ketidakwajaran karena dengan adanya kesombongan maka akan menghilangkan sifat rela yang sejatinya dimiliki manusia. Dampak yang timbul akan usaha peniadaan kesombongan komunal ini justru berubah menjadi penyombongan diri. Dari sinilah timbul rasa iri, dengki, marah, serakah, dan kebutuhan akan kuasa.
Pada era ini kesadaran tertinggi sedang berada pada fase keterbuaian terhadap duniawi. Manusia sebagai bagian dari kesadaran tertinggi sudah sewajibnya kembali memiliki kesadaran atas hidup yang mereka jalani. Sebuah pencarian jati diri ini harus dijalani untuk mengenal diri manusia dan kembali pada tingkat kesadaran tertinggi. Sebuah pencarian tidak dapat dilakukan tanpa mempertanyakan segala sesuatu sebelumnya. Dengan demikian, seorang manusia sewajarnya melawan dirinya sendiri akan segala sesuatu yang menghalangi dirinya menjadi bentuk manusia sejati. Bentuk perlawanan itu akan membawa diri manusia pada keadaan lelah melawan dan akhirnya menemukan bahwa suatu pencarian atau tujuan tidak memerlukan adanya perlawanan namun cukup dengan menjalani kerelaan dan mengganti sudut pandang terhadap kehidupan. Kerelaan ini yang akan membawa manusia menuju perdamaian. Namun perdamaian itu tidak akan dengan begitu saja terwujud, sebuah perwujudan duniawi akan kerelaan diperlukan. Dengan kata lain, sebuah tindakan nyata akan kerelaan harus dilakukan. Tindakan nyata ini akan menjadi contoh bagi manusia-manusia lainnya. Sehingga penetapan sikap yang mencerminkan kerelaan akan segala sesuatu dapat sejatinya tercapai di seluruh dunia. Tapi, apa itu rela?
Rela akan sulit ditemukan dalam keadaan yang membenci diri sendiri. Untuk itu, belajar mencintai pun menjadi penting. Kecintaan manusia akan menyilaukan matanya sehingga diperlukan usaha untuk belajar mengatasinya. Pada tahap ini kerelaan akan ditemukan dan kemudian membawa kita pada kesadaran tertinggi. Namun, apa yang kita tahu tentang cinta?
Tulisan ini tidak akan memberikan kalian sebuah jawaban akan sesuatu. Ini hanya sebuah pemicu bagi kalian untuk mulai mempertanyakan dan memulai perjalanan spiritual untuk menemukan jati diri kalian dan memahami peran kalian di dunia. Sebuah tips dari saya, ketika kalian sudah menemukan yang kalian cari, relakan saja. Ya sudahlah. Sepele.
Saturday, February 14, 2009
Note for Self: an Unplanned Day Can be a Pleasant One
On this year's val's day, I didn't plan any super duper specially romantic thingy with my boo. Shit, did I just use the term 'boo' as a substitute for girlfriend? Well, what the heck, there's always first time for everything. Okay, back to the f-ing subject. So, I didn't plan anything for this special day. I started my day at 12 pm. Yep, I'm not a morning guy. So, don't like that? You can click that red 'x' mark on the top right of the screen if you want to, a-hole! So I woke up and asked my self, "Hmm, what should I do on this lovely day full of love?" My mind speaks again on my behalf, "Well, a 'gurah' would be nice." It was my stupidest decision of the day, but not for long term engagement. It turned out that 'gurah' is very painful during and after the process. WHAT? You don't know what 'gurah' is? What are you? Some kind of a new breed of brain disintegration fucked up experiment lab rat? 'Gurah' is an alternative medication to get rid of slimy stuff from your respiratory organs. The 'gurah' man scoops some kind of icky liquid into your nose. Then you sit with head on your knees and wait for a long one shitty hour to let all the slime gets out from your body through your nose and mouth. While you wait, you'll feel a simultaneous brain freeze. After the process is done, you'll have a very bad headache. Headache is bad, imagine a very bad one. Yep, that's it. The aftereffect will last for at least 6-12 hours after the medication.
I went to the 'gurah' place using public transportation, alone. So there I was, after the medication, sat with a bad headache on a public transportation going back home. I laid my head on my bed as soon as I get home, it was 3 pm. I slept for about two hours. Then my lovely girlfriend, who suggests me to do 'gurah', I hated her for that, arrived and awake me from my zombie sleep. My best friend gave her a ride to my house. My mood was as bad as a bad mood can be. But, when I saw her smile, I remembered that it was Valentine’s Day. Love was in the air, but the 'gurah' pain still lingered. So, we talked, laughed, and helped my mom preparing party dishes for the opening of my mom's new distribution depot. After my mom left the house, we kissed and... . Hahaha. Enhance your imagination, my friend. So, you know, we did our stuff. Yuck, dude, not that kinda stuff. Wow, your mind need to be cleaned and cleansed. Then, we moved to my room and took a nap, a real nap. No, we didn't do that. Come on! I'm being honest here. Appreciate me a little, show some respect, FRIEND.
Then we woke up at 8 pm. Long story short, we went to Cilandak Town Square and bought a couple of beers and some snacks. Oh, my aunt and uncle accidentally met us and drive us there, lucky us. So, we sat on a small park at the parking lot. Again, we talked, laughed, and talked. It was not fun, it was blissful. It was a moment to remember. The green grass, the abstract shape of the trees, the dim lights of the lot, the black cloudy sky, the cool breeze of the wind, the chat, and us was perfect. We sat there for three hours. Oh, how I love her… Wait, you don’t envy me for that? What the funk? You should envy me! That is why I wrote this shit! Well, what the heck, I don’t give a rat’s ass.
So, when we thought things couldn’t be better, her father called and told us that he was at the same place and asked us to have a late dinner. Free rides, free dinner, envy me now? Then, after we filled our gas tanks, her dad offered us whether to have a cup of coffee or not. Well, what do you expect? Who can reject an offer like that, a cup of hot coffee in the rare coldness of Jakarta weather? So, chit chat pop dooby doob woop woop, 2.30 am. It’s time to go home. I said goodbye to Ninda. WHO’S NINDA??? She’s the girlfriend I’ve been talking about, you fool! Oh, I haven’t told you her name, huh? Hahaha. My bad. Well, her name is Ninda. So, I said goodbye with a little kiss on her forehead. I wanted to give more, but her father was standing five six feet from us. I didn’t want to give a bad image. Hahaha. That was my unplanned pleasant day.
Note for you:
live an unplanned day once in a while and enjoy anything comes at your doorstep on that day.
Sunday, February 1, 2009
Perjaka dan Perawan Jatuh Cinta, Celaka
Jadi males gw nulis blognya, lo kaya tai sih... Judulnya seru banget gitu, intriguing. Telek, sampeyan.
Friday, January 30, 2009
Dengan Senar Gitar dan Pita Suara
Mudah-mudahan gw bakal sering dapet gig. Jadi jalan gw di dunia musik semakin jelas terlihat. Hahahaha. Sebenernya gw gatau sih mau nulis apa, tapi secara gada yang baca juga gw jadi ga peduli. Yang penting jari gw ga nganggur aja.
Seminggu terakhir ini bisa dibilang flow musik gw lagi jalan banget. Hal apapun bisa dijadiin lirik lagu, sayangnya, karena kemampuan bermain gitar gw yang terbatas, ga semuanya bisa dijadiin lagu. Beberapa baru jadi coretan di atas kertas. Mudah-mudahan besok gw bisa jadiin lagu, karena besok gw mau ketemu sama band gw yang satu lagi, APILANGIT. Beuh, puitis banget ga tuh nama bandnya? Hahaha. Setelah kemaren sempet ribut sama gitaris gw karena ketidakcocokan kita berdua, kita baikan dan berencana untuk bikin lagu bareng. Hehehe.
Gw mau jadi orang besar melalui musik. Gw mau bikin musik yang berpengaruh. Gw mau jadi legenda. Sekarang gw lagi meniti jalan menuju hal itu semua, apapun yang ada di hadapan gw bakal gw terjang. Gak akan ada yang bisa menghadang. Gw akan berlari seperti angin topan yang mencari panas. Gw akan melaju seperti kuda liar di hamparan sabana. Ada yang ga setuju sama cita-cita gw? Mati aja lo semua.
Sunday, March 11, 2007
Cerita Pendek Oleh A.P. Devindra
Dia sebenarnya orang yang cukup baik. Seorang atlit berotak encer dan anak pejabat. Impian tiap wanita. Walaupun mungkin tampangnya masih satu poin di bawah aku, dia cukup baik. Cukup baik menjadi pengganti seorang Alif di hati seorang Avil. Namanya Esa. Tapi aku benci dia karena mengisi hati Avil dengan orang selain aku.
Aku. Apa kurangnya aku? Aku tampan, romantis, perhatian, humoris dan cinta setengah mati dengannya. Berpuluh puisi kurangkai deminya, Beratus memori kutuai bersamanya, beribu jam kuhabiskan bersamanya, berjuta rupiah kuhabiskan menyenangkan hatinya. Aku hal terbaik yang seorang Avil bisa dapatkan, setidaknya aku berpikir begitu. Kenapa dia memilih Esa?
Mungkin, karena dia bergelar sarjana dan aku masih berstatus mahasiswa. Bukankah status mahasiswa lebih tinggi daripada sarjana? Karena hanya ada dua maha di dunia ini, yaitu Tuhan Yang Maha Tunggal dan mahasiswa. Atau mungkin karena aku mencium Dia.
Aku bertemu Dia di Aishiteru, klub bergaya japanese retro pengusung tren genre electro groove kepada masyarakat Bandung.
“Hai!” sapa hangat di tengah dentuman bass dan kebisingan suara efek elektronik,
“Aku Dia. aku liatin kamu dari tadi, tapi kamu diem aja. Payah, ga peka liat cewe cantik.”.
“Hah?” kebingunganku mendengar perkenalan ‘aku dia’ dan kericuhan tempat yang penuh membuatku hanya mendengar ‘aku dia...cewe cantik’,
“Maaf, kamu bilang apa? Aku ga denger?” sahutku lagi. Dengan muka sedikit kesal dia teriak,
“Aku Dia. Aku liatin kamu dari tadi, tapi kamu diem aja!”.
“Ooh, aku Alif.” jawabku setengah tidak peduli. Aku kesini untuk nikmatin suasana, tak ingin cari wanita, karena aku sudah punya. Dia menatapku. Cukup lama Dia menatapku. Dia teriak lagi,
“Udah? Gitu aja?”. Aku tatap dia lagi. Kali ini kulihat dia dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Bagus juga nih, Lif. Lumayan, sekedar buat temen joget.”, pikiranku mulai berkhianat. Kuperhatikan lagi wajahnya. Wajahnya khas orang timur, cantik, putih, hanya saja matanya melotot kemerahan dan mengunyah permen karet dengan gamblang, sebuah pemandangan yang cukup mengganggu mata malam.
“Dia lagi kenceng, Lif. Udah, sikat aja!” pikiranku teruskan penghianatannya.
“Kok tangannya kosong aja? Aku beliin minum ya?” jawabku dengan khayalan lelaki haus belaian.
“Mau donk!” Dia menjawab dengan antusias.
“Kalo gitu kita ke bar aja yuk?” sahut Alif, lelaki bernafsu. Dia tarik tanganku seperti ingin lari estafet.
Gelas demi gelas kami tengguk. Lagu demi lagi kami dansakan. Kepalaku mulai berat. Kakiku tambah ringan. Aku berusaha mencari pijakan. Dia memegang tanganku, memberikan topangan. Dia memelukku, memberikan dukungan. Dia mengarahkan wajahku ke wajahnya. Dia tatap mataku dalam-dalam. Dahinya menyentuh dahiku. Hidungnya bersandar di hidungku. Dia menciumku. Bibir kami bertautan. Lidah kami berdansa. Sebuah sensasi tanpa ekstasi. Aku cium dia. Aku cium Dia.
“Enak ga, Lif?” getar wanita yang dikhianati.
“Maafin aku, Vil. Aku ngelakuin itu semua pas lagi ga sadar. Aku uda minum banyak banget. Aku aja tau ciuman sama cewe itu setelah dikasi tau temen-temenku. Aku bener-bener ga sadar. Plis, maafin aku?” ujar kejujuran diselipi kebohongan.
“Kamu ga jawab pertanyaanku. Enak ga, Lif?” tanya Avil lagi. Aku hanya terdiam, menatap wajahnya sebentar lalu menundukan kepalaku. Kenapa dia bertanya pertanyaan seperti itu? Marahkah dia? Sedihkah? Dia tidak menunjukan emosinya seperti biasa. Seperti dua tahun yang berjalan, tak sekalipun dia menangis, mengumpat, menjerit. Senyum seperlunya, tertawa seperlunya, komentar seperlunya. Itu seorang Avil.
“Kenapa diem aja?” tanya Avil membangunkanku dari lamunan.
“Liat mataku, Lif.......Ki-ta ga bi-sa sa-ma-sa-ma la-gi. I’m through with you. You can find somene else to fuck! Aku kecewa sama kamu. Titik.” jawab lantang pendirian teguh Avil. Sekarang aku benar-benar dalam masalah. Tanpa argumen. Tanpa toleransi. Sebuah tanggapan yang memang sudah kuduga.
Brakkk!!! Avil pergi setelah membanting pintu sedan mungilku. Hanya punggungnya yang kulihat terakhir kali. Tak ada senyum singkat atau tatapan mata menunjukkan sedikit keterbukaan pintu maaf. Hanya titik, brak dan langkah kaki menjauh.
Kutinggalkan lima puluh missed calls dan sepuluh unread messages di layar ponselnya, setiap hari, tiga bulan terakhir. Tak satupun yang berbalas. Dia hilang dari hidupku. Seperti kapal-kapal hilang di Bermuda. Tak berbekas.
Dia hilang setelah aku mencoba jujur padanya dengan harapan sebuah maaf.
Dia. Dia. Dia. Andai tak kucium Dia. Avil akan masih bersama Alif. Avil masih bersandar di pundak Alif. Masih berpelukan di kasur usang hotel melati, bercumbu dan bercinta. Berpisah dari dunia. Hanya aku dan dia. Dengan keyakinan cinta mengalahkan segalanya.
Tujuh tahun. Tiga bulan. Dua minggu. Tiga hari.
Dia. Dia. Dia. Andai tak kucium Dia. Avil masih bersama Alif. Avil masih bersandar di pundak Alif. Masih berpelukan di kasur usang hotel melati, bercumbu dan bercinta. Berpisah dari dunia. Hanya aku dan dia. Dengan keyakinan cinta mengalahkan segalanya. Tanpa memiliki satu buah BMW 7series, satu buah istana megah, satu pabrik tembakau, lima novel bestseller, makanan panas, baju hangat, sepasang anak kembar, dan seorang istri paling cantik, pengertian, setia dan penyayang yang pernah hidup di muka bumi, Dia.
Thursday, February 15, 2007
arti sebuah perbedaan
Mungkin Alicia benar, karena dunia ini memang penuh warna. Namun, tentu saja warna yang dimaksud bukan warna dalam arti sesungguhnya, yakni merah, biru, hitam, dsb. Warna yang dimaksud oleh Alicia adalah perbedaan-perbedaan yang ada dunia ini. Perbedaan-perbedaan yang saling melengkapi. Warna kulitmu, jenis kelaminmu, keyakinanmu, tingkah lakumu, pekerjaanmu, jenis rambutmu, pola pikirmu, dan masih buanyaak lagi.
Perbedaan-perbedaan itu menimbulkan variasi, menyebabkan adanya alasan untuk berinteraksi, membuat adanya kebutuhan akan sesuatu yang tidak kita miliki namun dimiliki orang lain.
Sayangnya, terkadang perbedaan itu menimbulkan iri bahkan dengki. iri akan sesuatu yang tidak kita miliki, seperti badan proporsional, wajah indah, rambut bagus, mobil mewah, istana megah, uang berlimpah, pasangan yang sempurna. keirian yang kemudian membuat keindahan dari keanekaragaman warna itu menjadi seperti cat tumpah yang tidak karuan.
Kadang keirian itu sendiri timbul karena kita menyombongkan perbedaan yang kita miliki yang kita kira merupakan sebuah kelebihan. Jadi seperti bermain ping-pong, saling mengembalikan bola melewati net lawan kita. Satu orang menyombong, yang disombongi tidak terima, ingin ikut sombong tapi tak bisa, timbul iri, ingin membalas kesombongan, mencoba menjatuhkan si sombong, merasa menang ketika si sombong jatuh, lalu menjadi orang yang sombong, dijatuhi orang yang disombongi, begitu terus seperti lingkaran setan.
Bayangkan perilaku yang sama pada orang yang berkuasa. Orang berkuasa biasanya orang yang bisa dan mau mempengaruhi orang lain, bukan hanya ide dan pikirannya tapi juga kehidupan orang lain itu. Jadi, tindakan yang mereka lakukan, langsung tidak langsung, suka atau tidak, akan mempengaruhi orang yang dikuasainya. Hal yang terjadi biasanya bukan sekedar saingan beli set home video terbaru atau mobil sport paling cepat. Dan persaingan orang yang berkuasa cenderung menimbulkan korban jiwa dan materi orang yang tidak tahu apa-apa. Lihat saja persaingan dalam pilkada di Indonesia atau lahan minyak mentah di Irak.
Lucunya tingkah manusia yang memiliki perbedaan dan tidak bisa menerima perbedaan itu sebagai sesuatu yang indah dan patut dipelihara.
